Berita ISBI Bandung

Kehidupan sebagai seorang santri merupakan pilihan hidup yang cukup dilematis. Memilih menjadi seorang santri perlu adanya suatu pengorbanan. Kehidupan dalam lingkup pesantren bagi para santrinya tentu yang utama adalah untuk memperdalam ilmu agama, tapi lebih dari itu banyak yang perlu dikorbankan sebagai pilihan hidupnya menjadi seorang santri. Di Indonesia, pondok pesantren tersebar luas di hampir setiap daerah. Bahkan, setiap kegiatan-kegiatan yang biasa dilakukan oleh para santri di pondok pesantren seolah telah menjadi budaya.

 

Berangkat dari hal tersebut, Meti Agni sebagai mahasiswa Program Pascasarjana Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung dengan minat penciptaan karya seni membuat film dokumenter berdasarkan kehidupan pesantren. Film dokumenter tersebut diberi judul “Ngobong” yang bisa dimaknai artinya sama dengan menjadi seorang santri di suatu ‘Kobong’ dalam bahasa Sunda yang artinya ‘pesantren’ dalam bahasa Indonesia.

Film dokumenter yang diproduksi selama 4 bulan tersebut mengambil latar di lingkungan pesantren di daerah Tasikmalaya. Pemilihan latar tempat tersebut bukan tanpa alasan, karena Tasikmalaya sudah dikenal sebagai Kota Santri. Kemudian ia lebih memilih pondok pesantren tradisional untuk pendokumentasian filmnya yaitu Pondok Pesantren Nurul Hikmat, karena dinilai lebih menunjukkan kehidupan yang masih berbudaya, para santri yang hidup mandiri, dan berbaur dengan alam.

Pemutaran perdana film dokumenter tersebut dilaksanakan di Gedung Kesenian Sunan Ambu ISBI Bandung, Kamis (8/9). Tujuan pembuatan film dokumenter tersebut adalah untuk menyelesaikan Tugas Akhir Penciptaan Pascasarjana ISBI Bandung, dengan pembimbing yaitu Dr. Arthur S. Nalan, S.Sen., M.Hum., dan Dr. Enok Wartika, S.Sos., M.Sn.

Meti Agni sebagai sutradara mendokumentasikan kehidupan pesantren dan juga seorang santriwati bernama Ayu sebagai Ro’isah (pengajar)  yang mengabdikan hidupnya selama bertahun-tahun di pondok pesantren. Hal tersebut merupakan bentuk kecintaannya terhadap pesantren, meski ia harus mengalami kondisi yang dilematis mengenai pilihannya menjadi santriwati dengan mengorbankan urusan dunianya untuk urusan akhirat. Namun dalam realita yang dilematis tersebut, Ayu merupakan sosok remaja santriwati yang sangat bertanggungjawab dan bermanfaat bagi orang lain, baik itu bagi lingkungan pesantren maupun bagi keluarganya. Melalui sosok Ayu dalam film ini, bisa sedikit mengingatkan mengenai sabda Rasulullah SAW. yaitu ‘Sebaik-baiknya orang adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain’.

 

“Film ini bertujuan untuk menunjukkan realita pesantren di jaman sekarang bahwa masih ada remaja-remaja yang bertanggungjawab, jujur, dan bermanfaat bagi orang lain. Film ini juga sebagai media dakwah, bukan hanya sekedar tontonan tapi semoga bisa sebagai tuntunan agar masyarakat bisa lebih bersyukur,” kata Meti Agni.*** (Humas ISBI Bandung/Agung)

Pencarian

Institut Seni Budaya Indonesia Bandung

Perguruan Tinggi yang menyelenggarakan pendidikan program Vokasi, Sarjana dan Pascasarjana dibidang Seni dan Budaya.

Jl. Buah Batu No. 212 Bandung 40265
Telp. (022)-7314982, 7315435; Fax. (022) - 7303021
Laman http://www.isbi.ac.id ; Email isbi@isbi.ac.id 

 

Pascasarjana


Fakultas Seni Pertunjukan

  • Seni Tari
  • Seni Karawitan
  • Seni Teater
  • Seni Musik Bambu

Fakultas Seni Rupa dan Design

  • Seni Rupa Murni
  • Kriya Seni
  • Rias dan Busana

Fakultas Budaya dan Media

  • Antropologi Budaya
  • Film dan Televisi

Biro Akademik dan Umum

SIMPT