Kerjasama Dalam Negeri

 

Di era digital yang memasuki revolusi industri 5.0 masyarakat memiliki banyak pilihan dalam mendapatkan berbagai informasi dan tontonan terutama yang berbasis jaringan internet. Segala rupa tontonan dengan konten yang bervariasi tersuguhkan secara bebas di internet yang tentunya sedikit banyak akan berpengaruh kepada penontonnya sedangkan belum semua tontonan yang ditayangkan tersebut sudah melalui proses penyensoran. Agar terhindar dari pengaruh negatif tontonan sudah seharusnya masyarakat dapat memilah dan memilih tontonan sesuai dengan klasifikasi usia. Lembaga Sensor Film (LSF) yang memliki mandat untuk membantu masyarakat agar dapat memilih film berdasarkan penggolongan usia penonton dan menikmati pertunjukan film yang bermutu serta memahami pengaruh film dan iklan film, selalu berupaya dalam memasyarakatkan “Budaya Sensor Mandiri”. Oleh karena itu LSF harus memiliki sinergi yang kuat dengan berbagai pihak salah satunya menjalin kerja sama dengan perguruan tinggi.

Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung sebagai perguruan tinggi negeri seni yang mengemban amanah untuk dapat menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas, bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, terdidik, terampil, dan profesional di bidang seni budaya yang memiliki kepekaan dalam menjawab tantangan zaman tentu memiliki peran penting dalam mensukseskan program LSF. Hal ini ditandai dengan telah ditandatanganinya Nota Kesepakatan antara LSF dan ISBI Bandung tentang penerapan merdeka belajar di era kampus merdeka dalam perfilman, penyensoran, dan percepatan sosialisasi budaya sensor mandiri pada Rabu (31/03/2021) di Hotel Grand Sahid Jaya Jakarta Jl. Jend. Sudirman No.Kav. 86, RT.10/RW.11, Karet Tengsin, Jakarta Pusat. 

“Dengan adanya kerja sama dengan Lembaga Sensor Film, ini merupakan kesempatan yang baik bagi ISBI Bandung, kita harus menjadi duta untuk mensosialisasikan sensor mandiri dan kita akan melaksanakan merdeka belajar dan mereka menerima magang bagi para mahasiswa kita. Jadi sebetulnya pada Lembaga Sensor Film tidak hanya kerja sama di bidang perfilman saja namun juga membutuhkan dari berbagai ilmu lainnya. Secara detil kita akan tindak lanjuti seperti apa dan jurusan-jurusan apa saja yang bisa kita magangkan di sana karena mereka sudah sangat terbuka sekali,” ucap Rektor ISBI Bandung Prof. Dr. Een Herdiani, S.Sen. M.Hum. setelah proses penandatanganan Nota Kesepakatan selesai.

Selain sosialisasi budaya sensor mandiri dan penerimaan penempatan magang bagi mahasiswa, ISBI Bandung juga akan melakukan tindak lanjut dalam hal penelitian dan pertukaran informasi terkait perfilman, penyensoran dan budaya sensor mandiri.

“Penelitian juga dibutuhkan, jadi bagaimana misalnya penelitian sosial atau penelitian mengenai film-film yang ada di mereka yang telah mereka sensor. Ini juga menjadi kesempatan untuk para dosen dan mengajak mahasiswanya untuk mencoba berkolaborasi dengan Lembaga Sensor Film. Saya kira seperti yang disampaikan oleh Sekjen Kemendikbud, Anggota Komisi X DPR, juga dari Ketua LSF-nya sendiri bahwa kolaborasi ini sangat dipentingkan sehingga ISBI Bandung pun siap untuk menindaklanjuti terutama berkaitan dengan merdeka belajar kampus merdeka dan tridarma perguruan tinggi,” imbuhnya.

Sebagaimana diketahui LSF pada Undang-Undang Perfilman Nomor 33 Tahun 2009 dinyatakan bertanggung jawab kepada Presiden RI melalui Menteri terkait yakni Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI sehingga jalinan kerja sama LSF dengan berbagai perguruan tinggi sangatlah penting sebagai mitra yang bersama-sama menjadi penjaga gawang moral bangsa melalui film. LSF yang terus menggaungkan budaya sensor mandiri berharap dapat fit in dengan konsep merdeka belajar kampus merdeka baik di perguruan tinggi umum, seni maupun keagamaan.

 

“Kami paham betul konsep merdeka belajar ini membuat Bapak Ibu juga harus lebih melihat lagi, menyusuri lagi beberapa mata kuliah bahkan kurikulum bahkan yang bisa fit in antara dunia pendidikan dengan dunia realita sebenarnya, nah ini barangkali LSF membuka diri untuk itu, mari kita bergandeng tangan, menyisingkan lengan, sama-sama membuat anak-anak kita ini lebih mengerti dunia luar dan fakta yang sebenarnya’ merdeka belajar,” tutur Ketua LSF Rommy Fibri Hardiyanto, M.I.Kom. dalam sambutannya.

Ia juga menyampaikan bahwa pada intinya budaya sensor mandiri adalah mengajak masyarakat untuk dapat memilah dan memilih tontonan sesuai dengan klasifikasi usia.

Adapun kode penggolongan usia penonton yang terdapat pada Permendikbud Nomor 14 Tahun 2019 tentang Pedoman dan Kriteria Penyensoran, Penggolongan Usia Penonton, Dan Penarikan Film Dan Iklan Film Dari Peredaran, Bab III Penggolongan Usia Penonton Pasal 17 yaitu:

• SU untuk penonton semua umur;

• R13 untuk penonton usia 13 (tiga belas) tahun atau lebih;

• D17 untuk penonton usia 17 (tujuh belas) tahun atau lebih; dan

• D21 untuk penonton usia 21 (dua puluh satu) tahun atau lebih.

“Kami menyampaikan penghargaan atas inisiatif dan respon yang sangat baik dari LSF maupun dari Bapak Ibu Pimpinan Perguruan Tinggi untuk melaksanakan dan meningkatkan upaya pelaksanaan kampus merdeka dan memberikan ruang kepada para mahasiswa untuk mengembangkan diri khususnya di sektor kebudayaan dan perfilman,” tutur Sekretaris Jenderal Kemendikbud Prof. Ainun Na’im, Ph.D sesaat sebelum ia resmi membuka acara ini.

Ia juga berharap kerja sama ini dapat menyukseskan strategi sensor mandiri dalam menjaga nilai-nilai budaya Indonesia dan dapat meningkatkan kapasitas dalam penguasaan teknologi dibidang media dan audio visual sehingga pengendalian dapat dilakukan secara lebih efektif.

Prof. Dr. Zainuddin Maliki, M.Si. Anggota Komisi X DPR RI yang hadir sebagai narasumber pada seminar LSF yang diadakan di Hotel Grand Sahid Jaya Jakarta pada Selasa malam (30/03/2021) menyebutkan bahwa saat ini kita berada di situasi yang semakin komplek dengan banyaknya perubahan di  banyak sektor dan aspek yang tidak dapat dihadapi sendiri maka ia mengajak untuk membangun sinergi dan kolaborasi terutama dalam mempersiapkan lulusan yang dibutuhkan oleh dunia industri yang memiliki  kompetensi sebagaimana dikatakan oleh Tony Wagner’s Seven Skills from The Global Achievement Gap yaitu:

1. Berpikir kritis dan menyelesaikan masalah (critical thinking and problem solving) 

2. Kolaborasi dan kepemimpinan (collaboration and leadership) 

3. Lincah dan adaptif (agility and adaptability) 

4. Inisiatif dan kewirausahaan (initiative and entrepreneurialism) 

5. Komunikasi lisan dan tulisan yang efektif (effective oral and written communication) 

6. Mengakses dan menganalisis informasi (accessing and analyzing information) 

7. Rasa ingin tahu dan imajisasi (curiosity and imagination). 

Secara pribadi ia berpendapat jika insan perfilman kaya akan imajinasi dan kreatifitas maka film-film yang dihasilkan adalah film yang berkualitas dan bagus, tidak hanya menghibur tetapi juga mencerahkan dan sarat akan edukasi serta memiliki misi atau pesan humanisasi, liberalisasi, dan transendensi yang merujuk kepada gagasan Prof. Dr. Kuntowijoyo, M.A. tiga pilar Ilmu Sosial Profetik sehingga akan selalu lulus sensor.

Ketua Komisi III LSF RI Dr. Naswardi, M.M., M.E yang juga menjadi narasumber seminar LSF ini menuturkan setiap film sebelum dipertontonkan kepada publik melalui saluran apapun wajib terlebih dahulu mendapatkan Surat Tanda Lulus Sensor (STLS) dari LSF yang artinya jika ada film yang belum mengantongi STLS maka ini akan menjadi bagian dari tindak pidana yang telah diatur dalam undang-undang perfilman. Pada tahun 2021 tercatat 39.863 judul yang disensor oleh LSF dan dari total semua judul tersebut terdapat 599 film yang diperuntukkan untuk jaringan informatika yang aksesnya sangat mudah dilakukan oleh siapa saja, dimanapun dan kapanpun, oleh sebab itu sangatlah penting untuk menerapkan sensor mandiri.

“Kami melakukan terobosan, boleh dihulunya proses penyensoran tetapi dihilirnya gerakan literasi, gerakan mencerdaskan masyarakat dalam memilih dan memilah tontonan itu wajib dilakukan, maka kami meneruskan gerakan budaya sensor mandiri artinya masyarakat, kita edukasi memilih dan memilah tontonan”, ujarnya.

Ia pun mengutarakan bahwa Komisi III LSF yang membidangi sosialisasi ini memiliki catur aksi gerakan budaya sensor mandiri yaitu memperkuat sosialisasi baik secara daring maupun luring; menggagas desa sensor mandiri yang harapannya dapat bersinergi dengan program pengabdian kepada masyarakat; memperkuat penelitian dan kajian baik yang berkaitan dengan norma kebijakan, undang-undang dan prilaku masyarakat; dan memperkuat kerja sama terutama dengan perguruan tinggi yang dipandang sebagai kawah candradimuka didalam industri perfilman dan pendidikan.

Meutya Viada Hafid Ketua Komisi I DPR RI mengatakan bahwa film bagian dari karya seni dan budaya dan film yang berkualitas memiliki peran strategis dalam meningkatkan ketahanan budaya bangsa dan kesejateraan masyarakat yang secara tidak langsung akan memperkuat ketahanan nasional. 

“Momentum MOU antara Lembaga Sensor Film dengan Perguruan Tinggi Negeri maupun Perguruan Tinggi Swasta tentunya menjadi momen yang amat berharga untuk dapat kita wujudkan film sebagai alat yang mampu menciptakan generasi bangsa yang cemerlang”, ucapnya.

Film adalah media yang efektif dalam pencitraan sebuah negara adi kuasa dibidangnya kepada dunia luar dan merupakan tradisi yang dimulai dari hal yang kecil yang terus berkembang menjadi besar, tahap demi tahap serta Indonesia merupakan negara adi kuasa dibidang seni dan budaya. Hal ini diungkapkan oleh Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan RI Prof. Dr. Muhadjir Effendy, MAP yang hadir langsung pada acara ini. 

“Seorang anggota Lembaga Sensor Film, dia harus ahli dibidang perfilman, kalau seandainya belum ahli, harus berusaha untuk menjadi ahli, penguasaan literatur berkaitan dengan perfilman terutama dari berbagai macam belahan dunia, itu penting untuk referensi, untuk branch marking agar kita betul-betul bisa mengawal perkembangan film nasional kita. Sekali lagi marilah kita bangun perfilman nasional ini demi untuk Indonesia sebagai bangsa yang besar”,pungkasnya.  

Mengenai kriteria penyensoran yang telah diatur dalam Permendikbud Nomor 14 Tahun 2019 Bab II Pedoman dan Kriteria Penyensoran Pasal 8 Penyensoran meliputi isi Film dan Iklan Film dari segi: 

• Kekerasan, Perjudian, Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif Lainnya; 

• Pornografi; 

• Suku, Ras, Kelompok, dn/atau Golongan; 

• Agama; 

• Hukum; 

• Harkat dan Martabat Manusia; dan 

• Usia Penonton Film.

Dari segi ruang lingkup Nota Kesepakatan ini meliputi: Regulasi dan kebijakan tentang perfilman, penyensoran dan budaya sensor mandiri; Advokasi, pemantauan dan sosialisasi tentang perfilman, penyensoran dan budaya sensor mandiri; Penelitian dan pertukaran informasi terkait perfilman, penyensoran dan budaya sensor mandiri; Pengabdian masyarakat di daerah pelaksanaan program desa sensor mandiri; Memperluas jejaring dan kemitraan di bidang perfilman, penyensoran dan budaya sensor mandiri; Penempatan magang bagi mahasiswa; Kuliah umum, seminar, workshop, webinar dan pelatihan sejenis lainya; Pemanfaatan sumber daya manusia serta fasilitas sarana dan prasarana yang dimiliki kedua belah pihak untuk menunjang kelancaran penyelenggaraan pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat.

Selain ISBI Bandung, LSF juga menjalin kerja sama yang serupa dengan 23 perguruan tinggi negeri dan swasta lainnya antara lain Institut Seni Indonesia Padang Panjang, Institut Seni Indonesia Denpasar, Institut Kesenian Jakarta, Universitas Islam Negeri Gunung Djati Bandung, Universitas Lambung Mangkurat, Institut Agama Islam Negeri Batusangkar, Akademi Film Yogyakarta, Universitas Islam Malang, Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka, Universitas Jember, Institut Pertanian Bogor, Universitas Tanjungpura, Universitas Padjadjaran, Universitas Al Asyariah Mandar, Universitas Nasional, dan Universitas YARSI. 

 

Kampus Merdeka – Indonesia Jaya

Yuk Dimulai dari Sekarang Sensor Mandiri, YES 

Memilah, Memilih Tontonan Sesuai Usia Kamu

Pencarian

Institut Seni Budaya Indonesia Bandung

Perguruan Tinggi yang menyelenggarakan pendidikan program Vokasi, Sarjana dan Pascasarjana dibidang Seni dan Budaya.

Jl. Buah Batu No. 212 Bandung 40265
Telp. (022)-7314982, 7315435; Fax. (022) - 7303021
Laman http://www.isbi.ac.id ; Email isbi@isbi.ac.id 

 

Pascasarjana


Fakultas Seni Pertunjukan

  • Seni Tari
  • Seni Karawitan
  • Seni Teater
  • Seni Angklung dan Musik Bambu
  • Seni Tari Sunda

Fakultas Seni Rupa dan Design

  • Seni Rupa Murni
  • Kriya Seni
  • Rias dan Busana

Fakultas Budaya dan Media

  • Antropologi Budaya
  • Film dan Televisi

Lembaga


Unit Pelaksana Teknis

  • UPT Perpustakaan
  • UPT Teknologi Informasi
  • UPT Ajang Gelar dan Busana Pertunjukan
  • UPT Kantor Urusan Internasional

Biro Akademik dan Umum

  • Bag. Akademik dan Kemahasiswaan
    • Subbag. Akademik
    • Subbag. Kemahasiswaan
  • Bag. Perencanaan, Kerjasama dan Hubungan Masyarakat
    • Subbag. Perencanaan
    • Subbag. Kerja sama dan Hubungan Masyarakat
  • Bagian Umum dan Keuangan
    • Subbag. Keuangan
    • Subbag. Tata Usaha, Hukum dan Kepegawaian
    • Subbag. Rumah Tangga dan Barang Milik Negara