Berita ISBI Bandung

Unit Kebudayaan, Bahagian Hal Ehwal Pelajar Universiti Teknologi Mara (UiTM) Cawangan Pulau Pinang Malaysia menyelenggarakan “Diskusi Pandemik: Cabaran Acara Kebudayaan” pada hari Rabu, 6 Januari 2021 pukul 9.45 waktu Malaysia. Program ini membahas mengenai situasi pandemic Covid-19 dan dampaknya terhadap factor ekonomi, pendidikan dan pariwisata serta bertukar pikiran mengenai solusi penyelenggaraan acara-acara kebudayaan demi pelestarian seni dan budaya di negara masing-masing .

Panelis yang hadir pada diskusi ini berasal dari 3 negara serumpun, yaitu : Ts. Dr. Mod Rozaiman Aziz dari Timbalan Rektor Hal Ehwal Pelajar UiTM Cawangan Pulau Pinang Malaysia; Cikgu Hj. Mohamad Ramli Hj Jumat dari Universiti Brunei Darussalam; Encik Shapee Che Embi dari Pengarah Jabatan Kebudayaan dan Kesenian Pulau Pinang Malaysia; Prof. Dr Een Herdiani, S.Sen., M.Hum dari Institut Seni Budaya Indonesia Bandung; Drs. Raja Alfirafindra, M.Hum dari Institut Seni Indonesia Yogyakarta; dan moderator acara oleh Ir. Mohd Firdaus Abdullah dari UiTM Malaysia.

 

Acara dimulai dengan sambutan Rektor UiTM Cawangan Pulau Pinang dan sekaligus membuka acara diskusi tersebut. Dalam sambutannya, Prof. Ts. Dr. Salmiah Kasolang menjelaskan mengenai tujuan diselenggarakannya Diskusi Pandemik: Cabaran Acara Kebudayaan dan berharap dalam diskusi yang digelar dapat memberikan ide-ide kreatif dan metode baru terhadap pembelajaran dan juga keberlangsungan acara-acara kebudayaan di masa pandemic Covid-19 sehingga pelaksanaannya lebih effisien dan dapat ditindak lanjuti secara positif.

Bahasan pertama disampaikan oleh moderator kepada Prof. Dr. Een Herdiani, S.Sen., M.Hum mengenai tanggapannya terkait gambaran awal Covid-19 yang menerpa Indonesia, dampak dan perkembangannya terhadap seni budaya hingga saat ini, serta dukungan pemerintah terhadap para penggiat seni di tanah air. 

Prof. Dr. Een Herdiani, S.Sen., M.Hum menyampaikan bahwa ketika diawal virus corona tersebut sampai ke Indonesia, pemerintah langsung memberlakukan pembatasan social berskala besar yang menyebabkan semua aktifitas yang melibatkan orang banyak dihentikan dan masing-masing masyarakat dihimbau untuk melakukan aktifitas di rumah saja. Berbagai event dan acara-acara kebudayaan dilarang untuk diselenggarakan guna mencegah kerumunan dan penyebaran Covid-19. Kemudian muncul kondisi psikologis berupa ketakutan, kecemasan, kebingungan dan ketidak-tahuan apa yang harus dilakukan. Kondisi ini akhirnya menciptakan shock culture secara otomatis. Situasi pandemic berdampak di seluruh sektor baik pendidikan, social, ekonomi dan pariwisata, tak terkecuali para pelakunya. Para pelaku atau penggiat-penggiat seni kehilangan pekerjaan dan sumber pendapatannya. Maka sampai pada suatu kondisi dimana para seniman justru menjadikan kondisi pandemic sebagai inspirasi untuk menuangkan perasaan-perasaan pada saat itu dalam bentuk kreatifitas yang tidak terbatas. Diantaranya, para musisi, baik itu musik tradisional maupun yang beraliran musik barat menciptakan lagu-lagu yang mencerminkan situasi pada saat itu dan mengunggahnya di media sosial. Dengan serta merta media sosial diramaikan lagu-lagu bertemakan Covid-19, dinyanyikan dengan berbagai Bahasa, bahkan terdapat lagu dengan sepuluh bahasa sekaligus. Kemunculan lagu-lagu ini kedepannya dapat menjadi bahan kajian karena akhirnya lagu tersebut memiliki dua peranan penting: pertama fungsinya menghibur masyarakat yang dalam keadaan shock; yang kedua fungsinya membantu pemerintah untuk tinggal dirumah dan mensosialisasikan anjuran-anjuran pemerintah. Di sisi lain, para koreographer menciptakan tarian ditempat-tempat seperti kamar, taman, sawah dan lingkungan sekitar rumah, yang mana karya tersebut merefleksikan doa-doa agar wabah ini segera usai.

Prof. Dr. Een Herdiani, S.Sen., M.Hum juga menyebutkan pada awalnya masyarakat tidak terlalu tanggap terhadap teknologi, akan tetapi pada masa pandemi ini semua berusaha untuk menguasai teknologi, terutama teknologi komunikasi. Seluruh sajian-sajian seni budaya berubah media menjadi virtual. Pelaku seni dan budaya harus cepat beradaptasi dan berinovasi dalam berkreatifitas dengan memanfaatkan teknologi. Hal ini juga yang dilakukan oleh para seniman seni rupa yang menggelar pameran secara virtual dengan galeri virtualnya. Begitu juga dengan museum-museum memanfaatkan teknologi dengan membuat museum virtual. Walaupun pandemic ini memberikan banyak dampak negative akan tetapi dibalik situasi ini terdapat banyak hikmah yang dapat dihasilkan, seperti halnya tayangan virtual mengenai seni dan budaya akhirnya banyak diunggah dan menghasilkan penonton yang tidak hanya di Indonesia bahkan bisa sampai mendunia.

Untuk keberlangsungan seni dan budaya, pemerintah tidak tinggal diam dalam situasi ini. Serangkaian usaha pemerintah dilakukan agar para seniman atau penggiat seni dan budaya agar tetap bisa bertahan dan menyalurkan kreatifitasnya. Pada bulan Juli tahun 2020, pemerintah memberikan dukungan melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia bersama dengan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif berupa panduan teknis penyelenggaraan kegiatan-kegiatan atau aktifitas seni budaya dengan menerapkan protocol kesehatan yang lengkap serta dengan ketentuan izin ketua satgas Covid-19 di wilayahnya masing-masing. Selain panduan, pemerintah juga menyelenggarakan lomba-lomba kreatifitas yang bertemakan Covid-19, agar para seniman tetap kreatif. Pemerintah juga menggandeng TV dan Media untuk menampilkan karya-karya unggulan seni bekerja sama dengan perguruan tinggi. Program lainnya pemerintah juga memberikan uang bantuan kepada seniman lepas yang sangat terdampak sehingga karya-karya tetap bermunculan. Saat ini sesuai arahan pemerintah pembelajaran beralih ke daring, dan akhirnya semua berusaha mempelajari teknologi untuk bisa beradaptasi. Pada Program Studi Seni Tari walaupun sebenarnya ada kendala jika praktek dilakukan akan tetapi para pengajar tetap berusaha memaksimalkan pembelajaran. “Pandemi Covid-19 memang memberikan dampak yang begitu besar akan tetapi juga memberikan peluang-peluang baru”, pungkas Prof. Dr. Een Herdiani, S.Sen., M.Hum diakhir penjelasannya.

Penelis Cikgu Hj. Mohamad Ramli Hj Jumat melaporkan mengenai kasus yang terjadi, bantuan dan kebijakan pemerintah di negara Brunei Darrussalam. Beliau juga menyampaikan mengenai kegiatan-kegiaan seni yang belum dibuka kembali serta mekanisme perkuliahan yang menggunakan metode daring dan luring. Panelis berikutnya Drs. Raja Alfirafindra, M.Hum dari Institut Seni Indonesia Yogyakarta memenyatakan kebanggaannya terhadap alumni-alumni yang masih konsisten berkarya sesuai daerah-daerahnya masing-masing walaupun di tengah pandemic. Beliau juga menjelaskan dampak pandemic terhadap penggiat seni sangat erat kaitannya dengan kaidah-kaidah agama, ketentuan daerah setempat serta segmentasi usia. Pemerintah diakui sudah memberikan bantuan tapi sifatnya sementara bukan sebagai sumber penghasilan, sehingga para penggiat seni banting setir untuk mencari penghasilan ke kuliner, bahkan akhirnya muncul kreativitas dari memadukan kuliner dengan seni dan budaya. Untuk pembelajaran seusai arahan pemerintah dilakukan secara daring akan tetapi permasalahan lainnya muncul karena tidak semua mahasiswa mampu secara financial sehingga pengajar tidak bisa tegas karena masa pandemic. Diakhir penjelasannya beliau berharap diskusi ini bisa memberikan solusi agar para penggiat seni dapat kembali memperoleh sumber penghasilannya dibidang seni dan budaya pada masa pandemic Covid-19. Panelis Encik Shapee Che Embi menyampaikan saat ini Malaysia mencoba bersabar dan mengikuti SOP yang diberikan oleh kementerian Kesehatan Malaysia. Kondisi dan program pemerintah Malaysia tidak jauh beda dengan apa yang telah dilakukan oleh pemerintah Indonesia. Beliau berharap jika Covid-19 ini telah hilang, program-program kolaborasi 3 negara serumpun ini dapat dilaksanakan.

Diskusi ini dapat dilihat pada UiTM Channel di link https://www.youtube.com/watch?v=5BTrK_xcVo8 

Pencarian

Institut Seni Budaya Indonesia Bandung

Perguruan Tinggi yang menyelenggarakan pendidikan program Vokasi, Sarjana dan Pascasarjana dibidang Seni dan Budaya.

Jl. Buah Batu No. 212 Bandung 40265
Telp. (022)-7314982, 7315435; Fax. (022) - 7303021
Laman http://www.isbi.ac.id ; Email isbi@isbi.ac.id 

 

Pascasarjana


Fakultas Seni Pertunjukan

  • Seni Tari
  • Seni Karawitan
  • Seni Teater
  • Seni Angklung dan Musik Bambu
  • Seni Tari Sunda

Fakultas Seni Rupa dan Design

  • Seni Rupa Murni
  • Kriya Seni
  • Rias dan Busana

Fakultas Budaya dan Media

  • Antropologi Budaya
  • Film dan Televisi

Lembaga


Unit Pelaksana Teknis

  • UPT Perpustakaan
  • UPT Teknologi Informasi
  • UPT Ajang Gelar dan Busana Pertunjukan
  • UPT Kantor Urusan Internasional

Biro Akademik dan Umum

  • Bag. Akademik dan Kemahasiswaan
    • Subbag. Akademik
    • Subbag. Kemahasiswaan
  • Bag. Perencanaan, Kerjasama dan Hubungan Masyarakat
    • Subbag. Perencanaan
    • Subbag. Kerja sama dan Hubungan Masyarakat
  • Bagian Umum dan Keuangan
    • Subbag. Keuangan
    • Subbag. Tata Usaha, Hukum dan Kepegawaian
    • Subbag. Rumah Tangga dan Barang Milik Negara