Berita ISBI Bandung



NYENI (Nusantara Yang Eklektik Nan Indah) Renungan Seorang Sosiologi Seni Melalui Kecerdasan Budaya dan Rekayasa Budaya  menjadi tema orasi ilmiah yang dipaparkan dalam pengukuhan guru besar Prof. Dr. Arthur Supardan Nalan, S.Sen., M.Hum. dalam Sidang Terbuka Senat Akademik Institut Seni Budaya Indoensia (ISBI) Bandung di Gedung Kesenian Sunan Ambu, ISBI Bandung, Jl. Buahbatu No.212, Kota Bandung (19/12/19). Prof. Dr. Arthur Supardan Nalan, S.Sen., M.Hum tercatat sebagai profesor ke-6  di ISBI Bandung.

“Hari ini merupakan momentum yang patut disyukuri karena di penghujung 2019 ini, ISBI Bandung bertambah satu orang profesor yang expert dalam bidangnya. Di kalangan seni teater khususnya siapa yang tidak mengenal Arthur S. Nalan, masyarakat seni telah mengakui kepakarannya, sehingga sering menjadi nara sumber dalam pembahasan-pembahasan bidang kebudayaan. Prof Arthur juga dikenal sebagai penulisan lakon, dan penulis skenario film,” ucap Dr. Een Herdiani, S.Sen., M.Hum pada sambutannya sebagai Rektor ISBI Bandung.

Pencapaian menjadi seorang guru besar bukanlah akhir dari karir seorang dosen, tetapi justru menjadikan gelar ini sebagai spirit yang senantiasa membangkitkan inspirasi baru, guna melahirkan karya-karya yang lebih brilian dan bermanfaat bagi khalayak umum. Gelar ini memang merupakan penghargaan yang sangat prestisisus yang diberikan oleh pemerintah namun ini bukan karena aspek sosial dan materiil, melainkan idealisme tinggi untuk memajukan bangsa terutama dalam bidang pendidikan.

“Pencapaian gelar profesor hendaknya tidak membuat jati diri kita berubah. “nyaur kudu diukur, nyabda kudu diunggang“ adalah sebuah kata mutiara Sunda  yang artinya kurang lebih “Pikirkan sebelum diucapkan apakah sudah benar, sudah baik, perlukah untuk diucapkan?” imbuhnya. 

Ucapan adalah cerminan pikiran dan pribadi seseorang. Karena itulah, seorang pribadi yang unggul, adalah mereka yang mampu menjaga lisan dan tindakan dengan sebaik-baiknya. Inilah cerdik cendekia yang sejati dan mempunyai integritas pribadi yang unggul.

Een menegaskan bahwa dengan SDM yang semakin baik kita akan lari mengejar ketertinggalan dengan perguruan tinggi seni yang lain. Perbaikan penataan pengelolaan internal menjadi syarat perlu. Peran guru besar menjadi sangat penting sebagai pelopor inovasi melalui pendidikan, riset, dan pengabdian dan karya besar untuk promoting ISBI Bandung. Pengembangan Informasi Technology (IT) dan riset-riset yang bermanfaat bagi masyarakat menjadi syarat mencukupkan bagi majunya ISBI Bandung. Saya berharap Prof. Dr. Arthur S. Nalan mampu berperan aktif di dalamnya.

Ia juga berharap para guru besar mampu menjadi pioner yang akan memunculkan kebaruan, jurnal terakreditasi nasional dan internasional,  buku, serta karya-karya seni monumental. Apalagi kesempatan mengembangkan keilmuan seni budaya semakin terbuka lebar begitu juga untuk aktivitas-aktivitas budaya yang saat ini sudah mendapatkan dukungan pemerintah dengan adanya UU No 5 tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan yang menjadi lahan ISBI Bandung untuk mengabdikan ilmunya.

Arthur S. Nalan menyampaikan orasi ilmiah NYENI ini dibagi dalam lima bagian. yakni pertama Indonesia Heritage: Sebuah Jendela Kekayaan dan Keindahan, kedua Kecerdasan Budaya sebagai Pilihan, ketiga Pemetaan Keragaman Seni Budaya: Mengenali-Memahami-Menghayati, keempat Kesadaran terhadap Lokal Global melalui Rekayasa Budaya dan yang kelima Eklektik yang Indah.

Ia menghimbau agar kita tak perlu malu bersaing dengan bangsa lain di dunia dengan cara menyadari bahwa kekayaan dan keindahan alam yang kita miliki bisa menjadi modal budaya. Tidak cukup hanya kagum tetapi kita perlu mengenali, memahami dan menghayati dengan penuh kasih sayang, welas asih, tindakan konkrit  melalui dokumenter, kajian-kajian, jurnal-jurnal dan karya seni yang memiliki kebaruan dalam pola tindak dan pola yang sistematik serta masif.

“Kita perlu melakukan pemetaan ulang terhadap keragaman seni budaya Nusantara yang kita pandang sebagai modal budaya dan modal sosial. Modal budaya terdiri dari aset sosial seseorang yang mempromosikan mobilitas sosial dalam sertifikasi masyarakat, sedangkan modal sosial adalah persahabatan, jaringan kerja, hubungan yang lebih erat yang menciptakan jaringan dan ikatan-ikatan”, tuturnya.

Tujuan dari pemetaan ulang ini adalah sebagai gerakan awal dalam menggali dan menemukan kebudayaan Nusantara yang masih banyak tersembunyi, belum terkonservasi dan belum terdokumentasi bahkan banyak yang belum dikenali.

“Tiga langkah yang saya tawarkan adalah mengenali-memahami-menghayati (Recoqnize, Understand, Aprecciate) disingkat RUA. Langkah RUA ini yang perlu dilakukan secara bertahap dan disadari keampuhannya untuk masa depan generasi dalam konteks pendidikan berbasis budaya”, terangnya.

Elektik yang berarti bersifat memilih yang terbaik merupakan istilah yang sangat jarang diketahui oleh khalayak. Keragaman budaya Nusantara sebagai warisan yang perlu dijalankan dengan langkah RUA.

The Song of Dorna, The Song of Aswatama dan The Song of Wilotama adalah trilogi Teater Wayang Sunda (TeWaySun) yang dibuat oleh Arthur. Baginya kisah Dorna tokoh pewayangan yang seringkali dipandang buruk  padahal seorang kesatria merupakan elektik nan indah dikarenakan dikisahkan dengan cara yang berbeda. Elektik nan indah juga ia rasakan ketika tertarik pada gambar umbul yang pernah populer pada tahun 1960-an. Perhatiannya tertuju kepada gambar wayang Dhemit yang menginspirasi dirinya untuk membuat Wayang The Demit yang baru sampai pada memindahkan dan melukisnya dengan cat air.

Para tamu undangan yang hadir juga disuguhkan dengan pementasan singkat lakon “Siti Quburi” yang dipersembahkan oleh Arthur sebagai pemiliki karya sekaligus sutradara. Lakon “Siti Quburi” mengisahkan seorang perempuan bernama SIti Sawiah yang dijuluki Siti Quburi karena profesinya sebagai penggali kubur mendapatkan banyak hadiah untuk mengurus mayit Pak Kabirun bersama suaminya kang Telkin. Namun ketika mengetahui Pak Kabirun adalah seorang koruptor besar, mereka tidak mau menerima hadiah-hadiah tersebut walau sangat menggiurkan bagi mereka. Lantaran ia dan suaminya takut akan kuasa Gusti Allah. Pementasanpun diakhiri dengan tepuk tangan yang bergemuruh dari para tamu undangan yang sangat puas dan takjub akan jalan cerita yang apik dikemas dengan sederhana namun tetap indah, walau singkat akan tetapi pesan moralnya senantiasa tersampaikan. Lakon ini juga didukung oleh Retno Dwimarwati sebagai Siti Quburi, M. Tavip Lampung sebagai Telkin, Chandra Jumara sebagai Doto, dan Nanan Supriyatna sebagai penggali kubur serta Hendra Permana sebagai Kadus.




Pencarian

Institut Seni Budaya Indonesia Bandung

Perguruan Tinggi yang menyelenggarakan pendidikan program Vokasi, Sarjana dan Pascasarjana dibidang Seni dan Budaya.

Jl. Buah Batu No. 212 Bandung 40265
Telp. (022)-7314982, 7315435; Fax. (022) - 7303021
Laman http://www.isbi.ac.id ; Email isbi@isbi.ac.id 

 

Pascasarjana


Fakultas Seni Pertunjukan

  • Seni Tari
  • Seni Karawitan
  • Seni Teater
  • Seni Tari
  • Seni Tari Sunda

Fakultas Seni Rupa dan Design

  • Seni Rupa Murni
  • Kriya Seni
  • Rias dan Busana

Fakultas Budaya dan Media

  • Antropologi Budaya
  • Film dan Televisi

Biro Akademik dan Umum

SIMPT