Berita Terkait


(Sumber foto: validnews.id)

Kreativitas Agung Pramudra Wijaya, alumni magister Institut Seni Budaya Indonesia Bandung dalam mengeksplorasi musik dari botol bekas.

BANDUNG – Musik sudah digelutinya sejak kecil. Keinginan untuk mahir bermusik dia asah dengan mengikuti berbagai kursus musik di kota Bandung. Hasilnya, ternyata tak hanya menjadikan Agung Pramudra Wijaya mahir bermusik.
Kepekaan akan suara unik yang dihasilkan suatu benda menjadi kelebihannya. Ini menjadikan pria yang juga dikenal dengan nama Agung Pecunk, pemain bas grup musik underground era 90-an Cherry Bombshell, istimewa.
Kepekaan dan kreativitas itu menjadi salah satu pemicu Agung mengajukannya untuk menjadikannya materi topik penelitian untuk meraih magister di Institut Seni dan Budaya (ISBI) Bandung pada 2016. Sebaiknya, pihak ISBI sempat menentang niat Agung. Pengajuannya dinilai tak selaras atau linear dengan gelar sarjana desain produk di Institut Teknologi Nasional (Itenas) Bandung tahun 1999.
“Ketika sedang memotong kaca, saya mendengar ada bunyi-bunyi, bunyi. Itu yang saya tangkap. Kemudian saya kumpulkan botol bekas dan disusun menjadi suatu harmoni,” jelas Agung mengenai ‘ilham’ untuk penelitian itu, Rabu (4/3).
Penolakan tersebut membuatnya sempat patah arang. Namun, ia berupaya agar tak gagal menjawab keraguan dosen pembimbing di ISBI. Agung kian mengeksplorasi suara indah dari botol bekas dengan eksperimen. Alhasil, berbagai peralatan musik dia hasilkan dari eksplorasinya. Ada alat musik gesek, tiup, petik, dan pukul yang dia teliti.
Maka kemudian ada beberapa alat musik dia munculkan. Mulai dari karinding botol (karintol), kliningan botol (klintol), scratcher botol (scratchtol), shaker botol (shaktol), rintik botol (rintol), jurig botol (jurtol), hingga cubit botol (bittol). Ada pula  tamborin botol (tambotol), gesek botol (gestol), udu botol (dutol), berimbau botol (berimtol), fujara botol (fujatol), gitar botol (gittol), dan bass botol (basstol).
Untuk menghasilkan instrumen musik ini, Agung membutuhkan waktu selama dua tahun. Mulai dari riset, sejak masuk semester satu perkuliahan pada 2014.
Awalnya, dia mulai dengan mengumpulkan beragam limbah botol kaca yang diperlukan. Selanjutnya, riset untuk menentukan alat musik apa saja yang akan dibuatnya. Hal ini dilakukan berkoordinasi dengan dosen pembimbing.
Setelah itu baru memasuki tahap pembuatan beragam instrumen musik. Saat membuat gittol dan basstol, misalnya, Agung berkolaborasi dengan salah satu perusahaan gitar yang ada di Kota Bandung.
"Untuk gitar penggarapannya serius, dalam pengertian untuk bikin gitar dan bass botol saya dua bulan diam di Secco (produsen gitar di Bandung, red),” cerita Agung.
Dia lalu tumpahkan konsentrasi untuk menghasilkan alat musik dari botol kaca. Perlakuan sama yang dia terapkan tatkala mengerjakan produksi home décor karyanya. Agung pernah berkali-kali mengalami botol kaca pecah pada saat proses pembuatannya. Ini tentu tidak menyurutkan niatnya untuk terus berkarya.
"Bahkan pernah juga, salah satu alat musik itu sudah jadi dan dipakai latihan terus pecah, ya dibuat lagi," sambung Agung.
Musik yang dihasilkan dari instrumen musik limbah botol kaca ini, memiliki kekhasan tersendiri. Musik ini pun bisa dinikmati sebagai sajian musik instrumental maupun mengiringi para penyanyi baik tradisional maupun kontemporer.
Tatkala memainkan alat musik ini, Agung dibantu beberapa temannya yang tergabung dalam band The Muslim (musik limbah). Alat musik limbah botol kaca ini mengantarkan Agung memeroleh predikat Pertunjukan Unggulan/Pertunjukan Terbaik Karya Tugas Akhir Pascasarjana Seni ISBI Bandung.
Meskipun diniatkan awalnya hanya untuk keperluan studi, sampai saat ini The Muslim bentukan Agung sering mendapatkan tawaran manggung di berbagai acara yang berhubungan dengan penyelamatan bumi. Salah satunya adalah event Earth Hour di berbagai pusat keramaian di Kota Bandung.
Agung berharap melalui karyanya banyak orang termotivasi untuk memanfaatkan limbah dan menanamkan pola pikir pada masyarakat, berkarya tidak selalu harus muluk-muluk dan menggunakan material mahal. Limbah pun bisa menghasilkan karya yang luar biasa apabila memiliki keinginan untuk mengolahnya.
"Dengan sentuhan kreativitas limbah yang tadinya sampah bisa menjadi berkah, kreativitas bisa menyelamatkan jalan hidup seseorang. Kalau kita baik pada sampah, sampah pun akan baik pada kita," pungkas Agung.

Dekorasi
Kreasi limbah botol kaca ini kemudian jadi fokus perhatian Agung. Rumah yang diami bersama sang istri di Griya Cikutra B5 A Bojong Koneng, Kabupaten Bandung jadi bengkel Agung untuk rekreasi. Bahkan, dia kemudian bereksperimen menjadikannya sebagai aksesoris untuk mempercantik desain interior maupun eksterior.
“Awalnya saya tidak berniat membuat karya untuk dijual, saya memilih limbah botol kaca, ingin ikut berperan aktif dalam mengurangi jumlah limbah sehingga dapat dimanfaatkan kembali menjadi barang yang memiliki nilai tambah, baik secara estetis maupun fungsi," tutur Dosen Jurusan Desain Produk, Itenas ini.
Agung menganggap, botol dari bahan kaca memiliki nilai estetika yang tinggi dibandingkan limbah dari material lainnya. Secara visual botol kaca yang transparan yang bisa dilalui cahaya, menurut Agung menghasilkan pendaran cahaya yang indah. Selain itu, Agung ingin memproduksi karya yang berbeda dengan kreator lainnya.
Saat berkreasi dengan limbah botol, Agung memiliki dua pola pikir yaitu unik dan tidak mudah ditiru pihak lain. "Saya selalu punya kecenderungan untuk menjadi pioneer, bukan follower karena memiliki peluang besar bagi penikmat karya saya," urai pria yang berinovasi dengan botol kaca sejak 2013 ini.
Limbah botol kemudian disulapnya menjadi armatur lampu, vas bunga, pot bunga, tempat alat tulis, asbak, atau tungku aroma.
Jika biasanya kebanyakan pengolahan limbah botol kaca dengan cara dihancurkan dan dipanaskan dalam suhu tinggi, sebelum akhirnya dibuat berbagai produk baru, Agung punya cara berbeda. Ayah satu orang putri ini mengolah sampah botol kaca dengan cara dipotong menggunakan mesin khusus.
"Untuk proses akhirnya saya juga menggunakan alat-alat khusus untuk finishing material kaca," sambung musisi ini.
Produk dari limbah yang Agung sebut sebagai second life ini dia jual dan promosikan dengan mengikuti berbagai pameran dan melalui media sosial. Produk-produk ini banyak diminati konsumen dalam negeri maupun mancanegara. Untuk Tanah Air, produknya tersebar di Bandung, Jakarta, Balikpapan, Pekalongan, dan Surabaya. Sementara untuk luar negeri yaitu Singapura dan Belanda.
Meskipun berasal dari limbah botol kaca, dalam mengawali pembuatan karyanya, Agung mengeluarkan modal yang cukup besar yaitu Rp20 juta. Dana tersebut untuk membeli berbagai botol kaca bekas dan peralatan dalam mengolah botol-botol tersebut. Dalam proses pembuatannya Agung dibantu beberapa pegawai, yang disesuaikan dengan banyak dan sedikitnya pesanan. Lamanya pembuatan tergantung kepada tingkat kerumitan pembuatan, bisa satu hari sampai dua minggu.
Atas karyanya mengolah limbah botol kaca, pada 2014 Agung diganjar penghargaan Good Design dari Menteri Pariwisata dan Industri Kreatif Mari Elka Pangestu dalam acara Pasar Desain di Jakarta.
Dia juga pernah diundang ikut serta di IFEX 2014 (International Furniture Expo) di Belanda, produknya Chemical Bottle Pendant Lamp (lampu gantung dari limbah botol kimia ukuran 5 liter).
Harga yang dipatok untuk berbagai produk ini mulai dari Rp300 ribu sampai dengan Rp20 juta. "Produk yang saya buat bisa berdasarkan pesanan konsumen maupun ide saya sendiri," kata Agung. (Yatni Setyaningsih).

Sumber: https://www.validnews.id/Agung-Pecunk-dan-Usaha-Mengolah-Limbah-Botol-Kaca-CsPDiakses pada: 17 Maret 2020

Pencarian

Institut Seni Budaya Indonesia Bandung

Perguruan Tinggi yang menyelenggarakan pendidikan program Vokasi, Sarjana dan Pascasarjana dibidang Seni dan Budaya.

Jl. Buah Batu No. 212 Bandung 40265
Telp. (022)-7314982, 7315435; Fax. (022) - 7303021
Laman http://www.isbi.ac.id ; Email isbi@isbi.ac.id 

 

Pascasarjana


Fakultas Seni Pertunjukan

  • Seni Tari
  • Seni Karawitan
  • Seni Teater
  • Seni Angklung dan Musik Bambu
  • Seni Tari Sunda

Fakultas Seni Rupa dan Design

  • Seni Rupa Murni
  • Kriya Seni
  • Rias dan Busana

Fakultas Budaya dan Media

  • Antropologi Budaya
  • Film dan Televisi

Lembaga


Unit Pelaksana Teknis

  • UPT Perpustakaan
  • UPT Teknologi Informasi
  • UPT Ajang Gelar dan Busana Pertunjukan
  • UPT Kantor Urusan Internasional

Biro Akademik dan Umum

  • Bag. Akademik dan Kemahasiswaan
    • Subbag. Akademik
    • Subbag. Kemahasiswaan
  • Bag. Perencanaan, Kerjasama dan Hubungan Masyarakat
    • Subbag. Perencanaan
    • Subbag. Kerja sama dan Hubungan Masyarakat
  • Bagian Umum dan Keuangan
    • Subbag. Keuangan
    • Subbag. Tata Usaha, Hukum dan Kepegawaian
    • Subbag. Rumah Tangga dan Barang Milik Negara