• FBM ISBI Bandung #DiBuAi “Karinding dalam Perspektif Kosmologi Sunda”

    Antropologi Budaya! Mandiri!
    Antropologi Budaya! Inovasi!
    Antropologi Budaya! Visoner!
    Antropologi Budaya! Luar Biasa!

    Hari pertama bulan November 2019 Jurusan Antropologi Budaya Fakultas Budaya dan Media (FBM) Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung kembali menyelenggarakan #DiBuAi (Diskusi Bulanan Antropologi) yang ke-6 (enam) kalinya dengan tajuk yang unik nan mendalam “Karinding dalam Perspektif Kosmologi Sunda” dengan Rahmat Leuweung, Abah Olot dan Kang Kimung sebagai narasumber. Diskusi ini diadakan secara outdoor di Teater Kebon yang menambah asiknya suasana diskusi yang diikuti oleh seluruh mahasiswa jurusan Antropologi Budaya dengan didampingi oleh Dekan dan Wakil Dekan FBM serta Ketua bersama para dosen jurusan Antropologi Budaya. 

    Karinding merupakan salah satu alat musik dari Tataran Sunda yang terbuat dari bambu. Penggunaan karinding sangat dekat dengan pertanian dikarenakan sering dipakai untuk mengusir hama perusak sawah. Dengan suara bising yang dihasilkan dari sentilan ujung telunjuk sambil ditempel di bibir yang pada bagian pemukulnya akan tercipta resonansi suara. Gesekan pegangan karinding dan ujung jari yang ditepuk-tepakkan akan mengeluarkan suara yang terdengar seperti suara wereng, belalang, jangkrik, burung dan lainnya.

    “Kosmologi sunda adalah cara pandang filosofis orang sunda mengenai dirinya, alam, lingkungan dan tuhannya. Kosmologi sunda terbentuk kata kosmos, logos dan sunda, kata sunda mengacu kepada tempat dimana kosmologi itu ada,  ini berdasarkan tafsir dari sejarahwan sunda Kang Edi ”,jelas Rahmat Leuweung.

    “Apakah ada kandungan pada karinding yang terkait dengan nilai-nilai alam? Kosmologi digunakan oleh para ilmuwan untuk mengevaluasi tentang keabsahan suatu benda terkait dalam kehidupan sosial masyarakat di suatu daerah. Dalam kesenian, karinding tidak hanya sebagai tontonan namun juga tuntunan yang akan menjadi nilai-nilai yang terkait dengan kosmologi sebuah peninggalan leluhur”, tambahnya.

    Kariding sebenarnya tidak hanya ada di Tatar Sunda saja, namun ada di Jawa, seantero Nusantara bahkan dunia. Hanya saja penamaan yang berbeda dengan bahan dasar yang berbeda pula. Sejarah tidak mencatat kapan pertama kalinya karinding dibuat, namun sejak masyarakat sunda mengenal pertanian, karinding menjadi bagian penting dari proses pengelolaan pertanian. Pada sebuah naskah kuno Pendakian Sri Ajnyana yang diperkirakan ditulis di abad ke-16 menceritakan secara tekstual tentang karinding yakni  “Giwang bercahaya di ujung kepala – Kecapi di dekat tempat tidur – Karinding di pago sanding (palang dada) – Giringsing di atas tempat tidur – Dan selimut”. Karinding yang dianggap sebagai benda yang sangat penting bagi leluhur sunda dimana karinding tidak boleh diletakkan dibawah-sejajar dengan kaki akan tetapi harus diatas kepala. Ini adalah bentuk penghormatan terhadap karinding dari segi substansi nilai yang terkandung pada karinding, bukan dari segi benda/objeknya. 

    • FBM ISBI Bandung #DiBuAi “Karinding”New
    • FBM ISBI Bandung #DiBuAi “Karinding”New
    • FBM ISBI Bandung #DiBuAi “Karinding”New
    • FBM ISBI Bandung #DiBuAi “Karinding”New
    • FBM ISBI Bandung #DiBuAi “Karinding”New
    • FBM ISBI Bandung #DiBuAi “Karinding”New
    • FBM ISBI Bandung #DiBuAi “Karinding”New
    • FBM ISBI Bandung #DiBuAi “Karinding”New

    Karinding dibuat menjadi tiga bagian, yaitu bagian jarum tempat keluarnya nada (cecet ucing), bagian untuk digenggam, dan bagian panenggeul (pemukul). Jika bagian panenggeul dipukul, maka bagian jarum akan bergetar dan ketika dirapatkan ke rongga mulut, maka akan menghasilkan bunyi yang khas. Bunyi tersebut diatur tergantung bentuk rongga mulut, kedalaman resonansi, tutup buka kerongkongan, atau hembusan dan tarikan napas. 

    “Tiga bagian ini merefleksikan juga nilai ,oral dan ajaran yang terkandung dalam karinding, yaitu yakin, sadar, sabar. Dipegang yang yakin, ditabuh yang sabar, dan jika sudah ada suara harus sadar jika itu bukan suara kita”, tutur Kimung.

    Abah Olot yang dikenal sebagai Maestro Kariding termotivasi untuk mengembangkan alat musik karinding agar dikenal kembali oleh masyarakat sunda khususnya. Hal ini dikarenakan sudah banyaknya kesenian dan tradisi Jawa Barat yang hilang, diantaranya adalah karinding. Abah Olot mengawali langkahnya dengan membangun pusat belajar karinding, mulai dari membuat hingga pandai memainkan karinding. Dari waktu ke waktu usaha ini terus berkembang, melalui murid-murid Abah Olot karinding dikenalkan hingga mancanegara seperti Australia dan Amerika Serikat.

    “Jadi pengembangan karinding pada waktu itu tidak sia-sia, banyak anak-anak yang menyukai karinding, baik yang membuat karinding, yang memainkannya, yang menikmati tontonannya serta yang mengkaji karinding, memiliki peran aktif dalam pelestarian alat musik ini supaya tidak hilang”, ujar Bah Olot. 

    Abah Olot berharap karinding bisa dikenal dan go internasional seperti angklung dengan saung udjonya. Jika itu dapat terwujud, maka akan menambah tujuan wisata Kota Bandung bagi wisatawan asing dan lokal yang akan meningkatkan perekonomian masyarakat Kota Bandung dan negara.

    Momen diskusi ini juga dimanfaatkan sebagai momen pengenalan Mars Antropologi Budaya ciptaan Dede Suryamah, S.Kar., M.Si yang berkolaborasi dengan Dr. Nia Dewi Mayakania, S.Kar, M.Hum. kepada para mahasiswa yang hadir.

Pencarian

Institut Seni Budaya Indonesia Bandung

Perguruan Tinggi yang menyelenggarakan pendidikan program Vokasi, Sarjana dan Pascasarjana dibidang Seni dan Budaya.

Jl. Buah Batu No. 212 Bandung 40265
Telp. (022)-7314982, 7315435; Fax. (022) - 7303021
Laman http://www.isbi.ac.id ; Email isbi@isbi.ac.id 

 

Pascasarjana


Fakultas Seni Pertunjukan

  • Seni Tari
  • Seni Karawitan
  • Seni Teater
  • Seni Musik Bambu

Fakultas Seni Rupa dan Design

  • Seni Rupa Murni
  • Kriya Seni
  • Rias dan Busana

Fakultas Budaya dan Media

  • Antropologi Budaya
  • Film dan Televisi

Biro Akademik dan Umum

SIMPT